Friday, September 30, 2005

CATATAN: Street life of Pasar Minggu

jakarta 29 September 2005. pasar Minggu-Kalibata

Deru metromini 604 jalur Tanah Abang -Pasar Minggu bersaing dengan deru buldoser pembuat terowongan di bawah rel. Asap knalpot berpacu dengan derap langkah pejalan kaki yang tak sabar menunggu bis berjalan zig zag, berebut satu jalur melewati pasar. Stasiun!Stasiun!Stasiun habis!Stasiun Habis! Macet! Macet! Seru kondektur mengusir penumpang. Kaki-kaki lincah, bersepatu hitam terciprat lumpur turun. Metromini masih berjalan, pelan-pelan. Satu kaki bersepatu hak tinggi turun dari bis, tangan berpegang pada handel pintu berkarat, gas ditancap. Sembari mengangkat kaki kembali, ia berseru, "kiri Bang!" Kondektur mengetokkan receh seratusan ke kaca metromini yang entah abu-abu entah putih warnanya.

Metromini, sedan mewah, kijang, mikrolet M 16, ditambah mobil Damri Pasar Minggu-Bandara berbaris tak rapi. raja smeua makhluk kaleng ini adalah metromini. Bodinya yang besar, dengan sopir yang bersuara menggelegar, membuat makhluk kaleng-makhluk kaleng lain terpaksa mengalah. Daripada disenggol, karena metromini tak kenal kompromi. Asapnya pun hitam pekat. Sembari menggeram-geramkan gasnya, asap knalpot menyembur, menyemprotkan gas beracun ke wajah-wajah lelah yang turun dari kendaraan.

Muka-muka kuyu turun dari bis. Termasuk saya. Di sisi jalan air menggenang. Terpaksa kaki melompat ke trotoar. Hati-hati! Sepeda motor telah merebut jalan anda! Mereka naik ke atas secuil trotoar yang disisakan pedagang kaki lima. Saya merutuk dalam hati. Jalanan ini milik siapa? Hukum rimba berlaku. Raja paling mengerikan adalah metromini berbodi merah. Setelah itu motor yang memenuhi jalanan. Meski kecil, ia seperti laron. Ketika menyerbu, mengerikan.
Belum lagi, mereka dengan entengnya menyerobot tempat pejalan kaki yang telah sempit oleh pedagang.

Saya berjalan dengan perlahan. Jalanan licin. Conblock sudah banyak yang lepas. Belum lagi waspada terhadap motor yang menerabas. Beton penutup saluran air juga ada yang bolong. Salah langkah bisa tercebur. Di depan, jajaran pedagang kakilima mulai emmasang tenda. Penjual gorengan menyiapkan wajan besar berisi minyak mendidih yang telah digunakan entah kali keberapa ratus. Pedagang sate ayam mulai memasang gerobak tepat di batas jalan dan trotoar. tempat panggangan satenya pun telah disiapkan. Martabak manis, ini saya lumayan suka, baru menaruh gerobak. Penjual bakso, memasang tenda biru paling lebar dari depan kios hingga batas jalan. Seolah trotoar sepenuhnya miliknya. Tak lupa bangku-bangku plastik dan mejanya telah dipasang. yang heran, penjual martabak, sate padang maupun gorengan tak merasa perlu memasang tenda. Atau barangkali sudah cukup menumpang pada penjual bakso. Daripada berebut, mungkin itu pikir mereka, toh jalanan bukan punya siapa-siapa.

Melewati jajaran pedagang kaki lima itu, saya mesti mengecilkan perut supaya bisa lewat diantara gerobak satu dengan yang lain. Barangkali itu gunanya kursus pelangsingan badan di jakarta. SUpaya lebih lincah melewati trotoar. Lewat dari situ, rasanya bisa menghela napas lega. Meski cuma sbentar. Perjuangan belum selesai. Masih banyak yang harus dilalui. Jalan masih panjang!

Ada jalan setapak berbelok menuju stasiun pasar Minggu. Jika sepanjang peron, kemudian berbelok kembali ke jalan sampai juga ke ujung tempat menanti anngkot KWK S15 jurusan Pasar rebo atau S15A jurusan Taman Mini-Ragunan. Tetapi syaa tak biasa lewat sana. Lagipula, jam-jam pulang kerja, peron stasiun penuh sesak. Kereta juga berkali-kali melintas. Tuut...Tuut.
Dugudugudug..Jeeeees....

Saya jalan lurus. Melewati pos polisi yang telah dibangun beberapa bulan lalu tapi belum kelar juga. Melewati pondok seadanya yang dibuat dari papan beratapkan terpal. Beberapa lelaki main kartu remi disana. Secara naluriah aku mempercepat langkah. langkah-langkah bergegas menyusul di belakang. Irama jalanan ibukota, pagi dan sore ketika pulang kerja.

Senja telah menjelang. Langit berubah abu-abu. Rona kemerahan di sisi barat mulai menghilang.
Pohon bambu yang menjadi pembatas jalan setapak dengan stasiun

Ia tergeletak di atas kardus yang dibuka sekenanya. Anak lelaki, umur 1,5 tahun. Matanya kosong menatap langit yang mulai meredup menyambut sang senja. Dingin tanah menyentuh punggung. Rumput-rumput masih basah bekas hujan, siang tadi. Ia diam. Tak ada kata, tak ada dialog. Sang bunda duduk meluruskan kaki. Terkadang ia tersenyum sendiri. lelaki kecil tak menggubris. Ibunda bukan tersenyum padanya. Di sampingnya, buntalan kain kumal entah berisi apa. Paling atas, ada roti pemberian dermawan. Ia telah memakan sebagian. Tapi ia haus. Dermawan lupa memberikan minuman.